BAB I
PENDAHULUAN
Dengan
mempelajari emosi kita sebagai seorang manusia dapat mengenali emosi diri
sendiri, sehingga dapat meningkatkan emosi positif dalam diri sendiri dan orang
lain, dan meminimalkan atau mengendalikan emosi-emosi yang perlu dikembangkan.
Antara
dorongan dan emosi terdapat hibungan yang erat. Sebab, dorongan-dorongan
biasanya dibarengi dengan keadaan intuitif emosional. Ketika suatu dorongan
menjadi intens dan terhalang untuk bisa dipenuhi beberapa lama, biasanya ia
dibarengi dengan ketegangan dalam tubuh. Biasanya ia dibarengi oleh keadaan
intuitif yang kacau. Sedangkan pemenuhan dorongan biasanya dibarengi oleh
intuitif yang ceria. Selain itu juga, emosi mempengaruhi tingkah laku.
Sesungguhnya tidak ada suatu tindakan manusia yang tidak dikendalikan oleh
emosinya. Karena itu mempelajari faktor emosional dalam agama itu sangatlah
penting. Pengaruh perasaan (emosi) terhadap agama jauh lebih besar daripada
rasio (logika). Banyak orang yang mengerti agama dan agama itu dapat diterima
oleh pikirannya, tetapi dalam pelaksanaannya ia sangat lemah. Kadang-kadang
tidak sanggup mengendalikannya. Dengan demikian, makalah ini akan membahas
tentang emosi dan hubungan dengan agama. Semoga makalah ini bermanfaat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. EMOSI
1) PENGERTIAN
EMOSI
Emosi berasal dari kata
e yang berarti energi dan motion yang berarti getaran . emosi kemudian bisa
dikatakan sebgai sebuah energiyang terus bergerak dan bergetar (chia,1985).
Emosi dalam makna paling harfiah
didefenisikan sebgai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran , perasaan
nafsu dari setiap keadaan mental yang
hebat atau meluap-luap ,emosi yang merujuk pada suatu perasaan dan pikiran
–pikiran yang khas ,suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian
kecenderungan bertindak (goleman ,1997) Chaplin (2002) merumuskan emosi sebgai
suatu keadaan yang terangsang dari organisme mecakup perubahan-perubahan yang
disadari yang mendalam sifatnya , dan perubahan prilaku[1] .
Dan kadang-kadang masih
dapat mengontrol keadaan diri seseorang hingga emosi yang dialami tidak
tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian sperti wajah
memerah ketika marah,air mata berlinang ketika sedih atau terharu . hal ini
berkaitan dengan pendapat yang dikemukakan oleh ekman dan friesen (walgito ,1994) bahwa ada 3 macam yang
dikenal dengan display rules yaitu adanya tiga macam aturan penggambaran emosi
yang terdiri atas masking,modulation,dan
simulation :[2]
1.
Masking
adalah keadaan seseorang yang dapat
menyembunyikan atau menutupi emosi yang
dialaminya .emosi yang dialaminya tidak tercetus keluar melalui ekspresi ke
jasmaninya.
2. Modulation adalah
orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya ,tetapi
hanya mengurangi saja.
3. Simulation adalah
orang yang tidak mengalami suatu emosi ,tetapi seolah-olah menhgalami emosi
dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian .
Pengertian Emosi Emosi
berasal dari bahasa Latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti
kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam
emosi. Daniel Goleman (2002) mengatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan
dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak. Emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari
luar dan dalam diri individu, sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan
suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih
mendorong seseorang berperilaku menangis[3].
Chaplin (2002, dalam
Safaria, 2009) merumuskan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari
organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya,
dan perubahan perilaku. Emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku
yang mengarah (approach) atau menyingkir (avoidance) terhadap sesuatu. Perilaku
tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian sehingga orang lain
dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi.
Emosi adalah
suatu konsep yang sangat majemuk sehingga tidak dapat satu pun definisi yang
diterima secara universal. Emosi sebagai reaksi penilaian(positif atau negatif)
yang kompleks dari sistem saraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau
dari dalam diri sendiri[4]
Pada
dasarnya emosi manusia bisa di bagi menjadi 2 kategori umum jika dilihat dari
dampak yang ditimbulkannya[5] .
1. Kategori
pertama yaitu emosi positif atau biasa disebut afek positif , emosi positif
memberikan dampak yang menyenangkan dan menenangkan . macam-macam emosi positif
ini adalah seperti tenaang, santai,rileks , gembira.lucu,haru, dan senang .
2. Kategori
kedua yaitu emosi negatif atau biasa disebut afek negatif , emosi negatif ini
maka dampak yang kita rasakan negatif tidak menyenagnkan,dan menyusahkan .
macam dari emosi negatif ini addalah sedih, kecewa,putus asa , depresi , tidak
berdaya ,frustasi, marah,dendam dll.
Biasanya kita mengendalikan diri dari
emosi negatif ini adakalanya kita mampu mengendalikannya , tetapi adakalanya
kita gagal melakukannya , ketika kita gagal mengendalikan atau menyeimbangkan
emosi negatif ini maka ketika itu keadaan suasana hati kita menjadi buruk .
2)
PERASAAN DAN EMOSI
Perasaan dan
emosi pada dasarnya merupakan dua konsep yang berbeda tetapi tidak bisa
dilepaskan. Perasaan selalu saja menyertai dan menjadi bagian dari emosi.
Perasaan (feeling) merupakan pengalaman yang disadari yang diaktifkan
oleh rangsangan dari eksternal maupun internal (keadaan jasmaniah) yang
cenderung lebih bersifat wajar dan sederhana. Demikian pula, emosi sebagai
keadaan yang terangsang dari organisme namun sifatnya lebih intens dan mendalam
dari perasaan. Menurut Nana Syaodih Sukadinata (2005), perasaan menunjukkan
suasana batin yang lebih tenang, tersembunyi dan tertutup ibarat riak air atau
hembusan angin sepoy-sepoy sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang
lebih dinamis, bergejolak, dan terbuka, ibarat air yang bergolak atau angin
topan, karena menyangkut ekspresi-ekspresi jasmaniah yang bisa diamati.
Contoh:
orang merasa marah atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, dalam konteks
ini, marah merupakan perasaan yang wajar, tetapi jika perasaan marahnya menjadi
intens dalam bentuk angkara murka yang tidak terkendali maka perasaan marah
tersebut telah beralih menjadi emosi. Orang merasa sedih karena ditinggal
kekasihnya, tetapi jika kesedihannya diekspresikan secara berlebihan, misalnya
dengan selalu diratapi dan bermuram durja, maka rasa sedih itu sebagai bentuk
emosinya.
Perasaan dan
emosi seseorang bersifat subyektif dan temporer yang muncul dari suatu
kebiasaan yang diperoleh selama masa perkembangannya melalui pengalaman dari
orang-orang dan lingkungannya. Perasaan dan emosi seseorang membentuk suatu
garis kontinum yang bergerak dari ujung yang yang paling postif sampai dengan
paling negatif, seperti: senang-tidak senang (pleasant-unpleasent),
suka-tidak suka (like-dislike), tegang-lega (straining-relaxing),
terangsang-tidak terangsang (exciting-subduing).
Karena
sifatnya yang dinamis, bisa dipelajari dan lebih mudah diamati, maka para ahli
dan peneliti psikologi cenderung lebih tertarik untuk mengkaji tentang emosi
daripada unsur-unsur perasaan. Daniel Goleman salah seorang ahli psikologi yang
banyak menggeluti tentang emosi yang kemudian melahirkan konsep Kecerdasan
Emosi, yang merujuk pada kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan
orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi
dengan baik pada diri sendiri dan dalam berhubungan dengan orang lain.[6]
3) UNSUR-UNSUR
PERASAAN
1. Besifat
subyektif daripada gejala mengenal
2. Bersangkut
paut dengan gejala mengenal.
3. Perasaan
dialami sebagai rasa senang atau tidak senang yang tingkatannya tidak sama.
Perasaan
lebih erat hubungannya denga pribadi seseorang dan berhubungan pula dengan
gejala-gejala jiwa yang lain. Oleh sebab itu tanggapan perasaan seseorang
terhadap sesuatu tidak sama dengan tanggapan perasaan orang lain terhadap hal
yang sama.Karena adanya sifat subyektif pada perasaan inilah maka gejala
perasaan tidak dapat disamakan dengan gejaja mengenal berfikir dan lain
sebagainya[7]
4) MACAM-MACAM
EMOSI
Menurut
Syamsu Yusuf (2003) emosi individu dapat dikelompokkan ke
dalam dua bagian yaitu:
1.
Emosi sensoris
Emosi
sensoris yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh,
seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar
2.
Emosi psikis..
Emosi psikis
yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan, seperti : perasaan
intelektual, yang berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran perasaan sosial,
yaitu perasaan yang terkait dengan hubungan dengan orang lain, baik yang
bersifat perorangan maupun kelompok.
1) Perasaan
susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau
etika (moral)
2) Perasaan
keindahan, yaitu perasaan yang berhubungan dengan keindahan akan sesuatu, baik
yang bersifat kebendaan maupun kerohanian
3) Perasaan
ke-Tuhan-an, sebagai fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan
makhluk beragama (Homo Religious)
Macam macam
emosi yang terbuka,dan emosi tertutup yaitu[8]:
1.
Macam emosi yang terbuka adalah macam pemikiran yang
pertama kehidupan mentalnya dikuasai emosi , sedangkan yang kedua kehidupan
mentalnya dikuasai oleh pikiran . emosi yang tertutup adalah menyendiri dalam
keadaan emosi yang sangat tajam ,
2.
Macam emosi yang macam ini cenderung kepada menyertai
orang lain dalam kegembiraan dan kesedihan mereka adalah oranng-orang sosial ,menghormati,
dan menjaga adat kebiasaan .mereka menyertai teman-teman dalam pergaulan.
Dengan demikian mereka mencapai dorongan-dorongan sosialnya dan memperluas
lapangan sosialnya , dan mengarah kepada ungakapan nyata dalam kehidupan emosi
, dan bermacam-macam seni,gambar,musik,drama dll. Ungkapan emosi yang seolah-olah segala yang
menyempit dada ,ditumpahkan ke luar sehingga ada sisanya lagi dalam kehidupan
pribadi mereka
5)
TEORI-TEORI EMOSI
A.
Teori James-Lange
Emosi yang
dirasakan adalah persepsi tentang perubahan tubuh. Salah satu dari teori paling
awal dalam emosi dengan ringkas dinyatakan oleh Psikolog Amerika William James:
“Kita merasa sedih karena kita menangis, marah karena kita menyerang, takut
mereka gemetar”.Teori ini dinyatakan di akhir abad ke-19 oleh James dan
psikolog Eropa yaitu Carl Lange, yang membelokkan gagasan umum tentang emosi
dari dalam ke luar. Di usulkan serangkaian kejadian disaat kita emosi : Kita
menerima situasi yang akan menghasilkan emosi[9]
Kita
bereaksi ke situasi tersebut,Kita memperhatikan reaksi kita. Persepsi
kita terhadap reaksi itu adalah dasar untuk emosi yang kita alami. Sehingga
pengalaman emosi-emosi yang dirasakan terjadi setelah perubahan tubuh,
perubahan tubuh (perubahan internal dalam sistem syaraf otomatis atau gerakan
dari tubuh memunculkan pengalaman emosi. Agar teori ini berfungsi, harus ada
suatu perbedaan antara perubahan internal dan eksternal tubuh untuk setiap
emosi, dan individu harus dapat menerima mereka. Di samping ada bukti perbedaan
pola respon tubuh dalam emosi tertentu, khususnya dalam emosi yang lebih halus
dan kurang intens, persepsi kita terhadap perubahan internal tidak terlalu
teliti.
B.
Teori Cannon-Bard
Emosi yang
dirasakan dan respon tubuh adalah kejadian yang berdiri sendiri-sendiri. Di
tahun I920-an, teori lain tentang hubungan antara keadaan tubuh dan emosi yang
dirasakan diajukan oleh Walter Cannon, berdasarkan pendekatan pada riset emosi
yang dilakukan oleh Philip Bard. Teori Cannon-Bard menyatakan bahwa emosi yang
dirasakan dan reaksi tubuh dalam emosi tidak tergantung satu sarna lain,
keduanya dicetuskan secara bergantian. Menurut teori ini, kita pertama kali
menerima emosi potensial yang dihasilkan dari dunia luar; kemudian daerah otak
yang lebih rendah, seperti hipothalamus diaktifkan. Otak yang lebih rendah ini
kemudian mengirim output dalam dua arah:[10]
1.
ke organ-organ tubuh dalam dan otot-otot eksternal
untuk menghasilkan ekspresi emosi tubuh,
2.
ke korteks cerebral, dimana pola buangan dari daerah
otak lebih rendah diterima sebagai emosi yang dirasakan. Kebalikan dengan teori
James-Lange, teori ini menyatakan bahwa reaksi tubuh dan emosi yang dirasakan
berdiri sendiri-sendiri dalam arti reaksi tubuh tidak berdasarkan pada emosi
yang dirasakan karena meskipun kita tahu bahwa hipothalamus dan daerah otak di
bagian lebih bawah terlibat dalam ekspresi emosi, tetapi kita tetap masih tidak
yakin apakah persepsi tentang kegiatan otak lebih bawah ini adalah dasar dari
emosi yang dirasakan.
C.
Teori Kognitif tentang Emosi
Teori ini
memandang bahwa emosi merupakan interpretasi kognitif dari rangsangan emosional
(baik dari luar atau dalam tubuh). Teori ini dikembangkan oleh Magda Arnold
(1960), Albert Ellis (1962), dan Stanley Schachter dan Jerome Singer (1962).
Berdasarkan teori ini, proses interpretasi kognitif dalam emosi terbagi dalam
dua langkah: 1. Interpretasi stimuli dari lingkungan. Interpretasi pada
stimulus, bukan stimulus itu sendiri, menyebabkan reaksi emosional. Contohnya,
jika suatu hari kamu menerima kado dari Wini dimana Wini adalah musuh besarmu,
maka kamu akan merasa takut atau bisa mengganggap bahwa kado tersebut
berbahaya.
Tetapi akan
berbeda ceritanya bila Wini adalah seorang teman karibmu, maka kamu akan dengan
senang hati menerima dan membuka kado tersebut tanpa curiga. Jadi dalam teori
kognitifpada emosi, informasi dari stimulus berangkat pertama kali ke cerebral
cortex, dimana akan diinterpretasi pada pengalaman masa kini dan lamapau. Lalu
pesan tersebut dikirim ke limbyc system dan sistem saraf otonom yang kemudian akan
menghasilkan arousl secara fisiologis.
Interpretasi
stimuli dari tubuh yang dihasilkan dari arousal saraf otonom Langkah kedua
dalam teori kognitif pada emosi yaitu interpretasi stimulus dari dalam tubuh
yang merupakan hasil dari arousal otonom. Teori kognitif menyerupai teori
James-Lange teori menekankan pentingnya stimuli internal tubuh dalam mengalami
emosi, tetapi sebenarnya itu berlanjut ke interpretasi kognitif dari stimuli,
dimana hal tersebut lebih penting dari pada stimuli internal itu sendiri.
6) KECERDASAN
EMOSI
Suatu
terobosan teori tentang emosi dikemukakan oleh Daniel Goleman dalam
bukunya The Emotional Intelligence. Golemen melanjutkan
penelitian-penelitian sebelumnya yang sudah berlangsung sejak 1970-1980-an
termasuk yang dilakukan oleh Howard Gardener(tentang multiple intelegence),
Peter Salovey, dan Jhon Mayer.
Dalam
bukunya, Golemen menyatakan tiga hal yang sangat penting sehingga teorinya bisa
dianggap sebagai terobosan[11].
Yang pertama,
emosi itu bukan bakat, melainkan bisa dibuat dilatih dan dikembangkan,
dipertahankan dan yang kurang baik dikurangi atau dibuang sama sekali.
Kedua, emosi
itu bisa diukur seperti intelegensi. Hasil pengukurannya disebut EQ (emotional
Quotient). Dengan demikian, kita tetap dapat memonitor kondisi kecerdasan emosi
kita.
Ketiga, dan
ini yang terpenting, EQ memegang peranan lebih penting daripada IQ. Sudah
terbukti banyak rang dengan IQ tinggi, yang di masa lalu dunia psikologi
dianggap sebagai jaminan keberhasilan seseorang, justru mengalami kegagalan.
Mereka kalah daarai orang-orang dengan IQ rata-rata saja, tetapi memiliki EQ
yang tinggi. Menurut Goleman, sumbangan IQ dalam menentukan keberhasilan
seseorang hana sekitar 20-30% saj, selebihnya ditentukan oleh EQ yang tinggi.
Adapun orang
yang dikatakan mempunyai EQ yang tinggi adalah jika ia memenuhi kriteria
berikut, yaitu sebagai berikut:
1. Mampu
mengenali emosinya sendiri.
2. Mampu
mengendalikan emosinya dengan situasi dan kondisi.
3. Mampu
menggunakan emosinya untuk meningktakan motivasinya sendiri(bukan malah membuat
diri putus asa atau bersikap negatif pada orang lain).
4. Mampu
berinteraksi positif dengan orang lain
Menurut Goleman, ada
beberapa ciri pikiran emosional dalam kecerdasan emosional, di antaranya
sebagai berikut[12]
:
1. Respon pikiran emosional (emotional mind) itu jauh lebih cepat dari pikiran
rasional (rational mind). Pikiran emosional itu lebih cepat dalam bertindak
tanpa mempertimbangkan apa yang dilakukannya. Tindakan yang muncul
dari pikiran emosional membawa rasa kepastian yang
kuat.
2. Emosi itu mendahului pikiran. Menurut Ekman, secara teknis, memuncaknya
emosi itu berlangsung amat singkat, hanya dalam hitungan detik, bukan dalam
hitungan menit, jam, atau hari.
3. Logika emosional itu bersifat asosiatif
4. Memposisikan masa lampau sebagai masa sekarang. Akal emosional
bereaksi terhadap keadaan sekarang seolah–olah keadaan itu adalah masa lampau.
7) PENGARUH
EMOSI PADA BELAJAR
Emosi
berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar (Meier dalam DR. Nyayu
Khodijah, 2006). Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan
mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat
memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Oleh karena itu,
pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif
pada diri pembelajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat
dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan
lingkungan belajar yang menyenangkan dan dengan penciptaan kegembiraan belajar.
Menurut
Meier, 2002 (dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006) kegembiraan belajar seringkali
merupakan penentu utama kualitas dan kuantitas belajar yang dapat terjadi.
Kegembiraan bukan berarti menciptakan suasana kelas yang ribut dan penuh
hura-hura. Akan tetapi, kegembiraan berarti bangkitnya pemahaman dan nilai yang
membahagiakan pada diri si pembelajar. Selain itu, dapat juga dilakukan
pengembangan kecerdasan emosi pada siswa. Kecerdasan emosi merupakan kemampuan
seseorang dalam mengelola emosinya secara sehat terutama dalam berhubungan
dengan orang lain [13]
8) PERTUMBUHAN
EMOSI
Pertumbuhan
dan perkembangan emosi seperti juga pada tingkah laku lainnya ditentukan oleh
pematangan dan proses belajar seorang bayi yang baru lahir dapat menangis
tetapi ia harus mencapai ringkas kematangan tertentu untuk dapat tertawa
setelah anak itu sudah besar maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa
digunakan untuk maksud-maksud tertentu atau untuk situasi tertentu.
Makin besar
anak itu makin besar pula kemampuannya untuk belajar sehingga
perkembangan emosinya makin rumit. Perkembangan emosi melalui proses kematangan
hanya terjadi sampai usia satu tahun. Setelah itu perkembangan selanjutnya
lebih banyak ditentukan oleh proses belajar.[14]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari
pemaparan materi tentang emosi di atas kami penulis menyimpulkan sebagai
berikut:
1. Setiap
manusia memiliki karakteristik emosinya masing-masing yang semuannya itu
merupakan suatu bentuk kebesaran Allah SWT sebagai pencipta manusia dengan
segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.
2. Emosi
memiliki peranan yang penting dalam kehidupan. Emosi dapat mendatangkan
keburukan ketika kita tidak dapat mengendalikannya dan kebaikan ketika diri
kita dapat mengolahnya dengan baik.
3. Berbagai
macam-macam emosi dimiliki manusia sebagai makhluk yang sempurna. Baik buruknya
suatu emosi tergantung bagaimana kita menyikapinya.
4. Emosi
berperan dalam proses pembelajaran. Karena dalam emosi terdapat energi
yang postif dan negatif. Tergantung bagaimana kita sebagai pendidik
membimbingnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Safaria,Trianto.2009.Manajemen Emosi,Jakarta:Bumi Aksara
Arito ,W suwono.2010,Pengantar Psikologi Umum ,Jakarta
:PT.Raja Grafindo Persada
Drs,Abu Ahmadi.2003,Psikologi Umum,Jakarta:Rineka Cipta
Prof. Dr. Abdul Aziz
El-Quusy.1954,ilmu jiwa , Jakarta :
Bulan Bintang
Abdul Rahman Shaleh Dan
Muhib Abdul Wahab.2009.Psikologi
Pengantar (Dalam Perspektif Islam),Jakarta:Kencana
[1] Trianto
Safaria,Manajemen Emosi,Bumi Aksara,Jakarta:2009
hlm-12
[2] Ibid,hal-13
[3] Ibid, hlm 14-15
[4] Arito ,W
suwono,Pengantar Psikologi Umum ,PT.Raja
Grafindo Persada : Jakarta,2010 hlm 124-125
[5]
Triantoro safaria,Op.Cit hlm 13-14
[7] Drs,Abu
Ahmadi,Psikologi Umum,Rineka
Cipta,Jakarta:2003 hlm-101
[8] Prof.
Dr. Abdul Aziz El-Quusy,Ilmu jiwa,Bulan
Bintang.Jakarta:1954 hlm 467-477
[9] Https://Yogacintaindonesia.Wordpress.Com/2014/02/19/Makalah-Emosi-Psikologi-Umum
[10] Https://Yogacintaindonesia.Wordpress.Com/2014/02/19/Makalah-Emosi-Psikologi-Umum
[11] Https://Yogacintaindonesia.Wordpress.Com/2014/02/19/Makalah-Emosi-Psikologi-Umum
[13]
Https://Yogacintaindonesia.Wordpress.Com/2014/02/19/Makalah-Emosi-Psikologi-Umum
[14] Abdul
rahman shaleh dan muhib abdul wahab.psikologi pengantar (dalam perspektif
islam),kencana .jakarta :2009 hl m 173-174
Tidak ada komentar:
Posting Komentar