Rabu, 17 Juni 2015

MANAJEMEN EMOSI


BAB I
PENDAHULUAN

Dengan mempelajari emosi kita sebagai seorang manusia dapat mengenali emosi diri sendiri, sehingga dapat meningkatkan emosi positif dalam diri sendiri dan orang lain, dan meminimalkan atau mengendalikan emosi-emosi yang perlu dikembangkan.
   Antara dorongan dan emosi terdapat hibungan yang erat. Sebab, dorongan-dorongan biasanya dibarengi dengan keadaan intuitif emosional. Ketika suatu dorongan menjadi intens dan terhalang untuk bisa dipenuhi beberapa lama, biasanya ia dibarengi dengan ketegangan dalam tubuh. Biasanya ia dibarengi oleh keadaan intuitif yang kacau. Sedangkan pemenuhan dorongan biasanya dibarengi oleh intuitif yang ceria. Selain itu juga, emosi mempengaruhi tingkah laku.
            Sesungguhnya tidak ada suatu tindakan manusia yang tidak dikendalikan oleh emosinya. Karena itu mempelajari faktor emosional dalam agama itu sangatlah penting. Pengaruh perasaan (emosi) terhadap agama jauh lebih besar daripada rasio (logika). Banyak orang yang mengerti agama dan agama itu dapat diterima oleh pikirannya, tetapi dalam pelaksanaannya ia sangat lemah. Kadang-kadang tidak sanggup mengendalikannya. Dengan demikian, makalah ini akan membahas tentang emosi dan hubungan dengan agama. Semoga makalah ini bermanfaat.














BAB II
PEMBAHASAN
A.  EMOSI
1)      PENGERTIAN EMOSI
Emosi berasal dari kata e yang berarti energi dan motion yang berarti getaran . emosi kemudian bisa dikatakan sebgai sebuah energiyang terus bergerak dan bergetar (chia,1985). Emosi  dalam makna paling harfiah didefenisikan sebgai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran , perasaan nafsu  dari setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap ,emosi yang merujuk pada suatu perasaan dan pikiran –pikiran yang khas ,suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan bertindak (goleman ,1997) Chaplin (2002) merumuskan emosi sebgai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mecakup perubahan-perubahan yang disadari yang mendalam sifatnya , dan perubahan prilaku[1] .
Dan kadang-kadang masih dapat mengontrol keadaan diri seseorang hingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian sperti wajah memerah ketika marah,air mata berlinang ketika sedih atau terharu . hal ini berkaitan dengan pendapat yang dikemukakan oleh ekman dan friesen  (walgito ,1994) bahwa ada 3 macam yang dikenal dengan display rules yaitu adanya tiga macam aturan penggambaran emosi yang terdiri atas masking,modulation,dan simulation :[2]
1.      Masking adalah  keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau menutupi  emosi yang dialaminya .emosi yang dialaminya tidak tercetus keluar melalui ekspresi ke jasmaninya. 
2.      Modulation adalah orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya ,tetapi hanya mengurangi saja.
3.      Simulation adalah orang yang tidak mengalami suatu emosi ,tetapi seolah-olah menhgalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian .
Pengertian Emosi Emosi berasal dari bahasa Latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Daniel Goleman (2002) mengatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu, sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis[3].
Chaplin (2002, dalam Safaria, 2009) merumuskan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku. Emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menyingkir (avoidance) terhadap sesuatu. Perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi.
Emosi adalah suatu konsep yang sangat majemuk sehingga tidak dapat satu pun definisi yang diterima secara universal. Emosi sebagai reaksi penilaian(positif atau negatif) yang kompleks dari sistem saraf seseorang terhadap rangsangan dari luar atau dari dalam diri sendiri[4]
Pada dasarnya emosi manusia bisa di bagi menjadi 2 kategori umum jika dilihat dari dampak yang ditimbulkannya[5] .
1.      Kategori pertama yaitu emosi positif atau biasa disebut afek positif , emosi positif memberikan dampak yang menyenangkan dan menenangkan . macam-macam emosi positif ini adalah seperti tenaang, santai,rileks , gembira.lucu,haru, dan senang .
2.      Kategori kedua yaitu emosi negatif atau biasa disebut afek negatif , emosi negatif ini maka dampak yang kita rasakan negatif tidak menyenagnkan,dan menyusahkan . macam dari emosi negatif ini addalah sedih, kecewa,putus asa , depresi , tidak berdaya ,frustasi, marah,dendam dll.
Biasanya kita mengendalikan diri dari emosi negatif ini adakalanya kita mampu mengendalikannya , tetapi adakalanya kita gagal melakukannya , ketika kita gagal mengendalikan atau menyeimbangkan emosi negatif ini maka ketika itu keadaan suasana hati kita menjadi buruk .
2)      PERASAAN DAN EMOSI
Perasaan dan emosi pada dasarnya merupakan dua konsep yang berbeda tetapi tidak bisa dilepaskan. Perasaan selalu saja menyertai dan menjadi bagian dari emosi. Perasaan (feeling) merupakan pengalaman yang disadari yang diaktifkan oleh rangsangan dari eksternal maupun internal (keadaan jasmaniah) yang cenderung lebih bersifat wajar dan sederhana. Demikian pula, emosi sebagai keadaan yang terangsang dari organisme namun sifatnya lebih intens dan mendalam dari perasaan. Menurut Nana Syaodih Sukadinata (2005), perasaan menunjukkan suasana batin yang lebih tenang, tersembunyi dan tertutup ibarat riak air atau hembusan angin sepoy-sepoy sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang lebih dinamis, bergejolak, dan terbuka, ibarat air yang bergolak atau angin topan, karena menyangkut ekspresi-ekspresi jasmaniah yang bisa diamati.
Contoh: orang merasa marah atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, dalam konteks ini, marah merupakan perasaan yang wajar, tetapi jika perasaan marahnya menjadi intens dalam bentuk angkara murka yang tidak terkendali maka perasaan marah tersebut telah beralih menjadi emosi. Orang merasa sedih karena ditinggal kekasihnya, tetapi jika kesedihannya diekspresikan secara berlebihan, misalnya dengan selalu diratapi dan bermuram durja, maka rasa sedih itu sebagai bentuk emosinya.
Perasaan dan emosi seseorang bersifat subyektif dan temporer yang muncul dari suatu kebiasaan yang diperoleh selama masa perkembangannya melalui pengalaman dari orang-orang dan lingkungannya. Perasaan dan emosi seseorang membentuk suatu garis kontinum yang bergerak dari ujung yang yang paling postif sampai dengan paling negatif, seperti: senang-tidak senang (pleasant-unpleasent), suka-tidak suka (like-dislike), tegang-lega (straining-relaxing), terangsang-tidak terangsang (exciting-subduing).
Karena sifatnya yang dinamis, bisa dipelajari dan lebih mudah diamati, maka para ahli dan peneliti psikologi cenderung lebih tertarik untuk mengkaji tentang emosi daripada unsur-unsur perasaan. Daniel Goleman salah seorang ahli psikologi yang banyak menggeluti tentang emosi yang kemudian melahirkan konsep Kecerdasan Emosi, yang merujuk pada kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam berhubungan dengan orang lain.[6]
3)      UNSUR-UNSUR PERASAAN
1.      Besifat subyektif daripada gejala mengenal
2.      Bersangkut paut dengan gejala mengenal.
3.      Perasaan dialami sebagai rasa senang atau tidak senang yang tingkatannya tidak sama.
Perasaan lebih erat hubungannya denga pribadi seseorang dan berhubungan pula dengan gejala-gejala jiwa yang lain. Oleh sebab itu tanggapan perasaan seseorang terhadap sesuatu tidak sama dengan tanggapan perasaan orang lain terhadap hal yang sama.Karena adanya sifat subyektif pada perasaan inilah maka gejala perasaan tidak dapat disamakan dengan gejaja mengenal berfikir dan lain sebagainya[7]
4)      MACAM-MACAM EMOSI
Menurut Syamsu Yusuf (2003) emosi individu dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu:
1.      Emosi sensoris
Emosi sensoris yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar
2.      Emosi psikis..
Emosi psikis yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan, seperti : perasaan intelektual, yang berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran perasaan sosial, yaitu perasaan yang terkait dengan hubungan dengan orang lain, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok.
1) Perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral)
2) Perasaan keindahan, yaitu perasaan yang berhubungan dengan keindahan akan sesuatu, baik yang bersifat kebendaan maupun kerohanian
3) Perasaan ke-Tuhan-an, sebagai fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan makhluk beragama (Homo Religious)
Macam macam emosi yang terbuka,dan emosi tertutup yaitu[8]:
1.      Macam emosi yang terbuka adalah macam pemikiran yang pertama kehidupan mentalnya dikuasai emosi , sedangkan yang kedua kehidupan mentalnya dikuasai oleh pikiran . emosi yang tertutup adalah menyendiri dalam keadaan emosi yang sangat tajam ,
2.      Macam emosi yang macam ini cenderung kepada menyertai orang lain dalam kegembiraan dan kesedihan mereka adalah oranng-orang sosial ,menghormati, dan menjaga adat kebiasaan .mereka menyertai teman-teman dalam pergaulan. Dengan demikian mereka mencapai dorongan-dorongan sosialnya dan memperluas lapangan sosialnya , dan mengarah kepada ungakapan nyata dalam kehidupan emosi , dan bermacam-macam seni,gambar,musik,drama dll.  Ungkapan emosi yang seolah-olah segala yang menyempit dada ,ditumpahkan ke luar sehingga ada sisanya lagi dalam kehidupan pribadi mereka
5)      TEORI-TEORI EMOSI
A.    Teori James-Lange
Emosi yang dirasakan adalah persepsi tentang perubahan tubuh. Salah satu dari teori paling awal dalam emosi dengan ringkas dinyatakan oleh Psikolog Amerika William James: “Kita merasa sedih karena kita menangis, marah karena kita menyerang, takut mereka gemetar”.Teori ini dinyatakan di akhir abad ke-19 oleh James dan psikolog Eropa yaitu Carl Lange, yang membelokkan gagasan umum tentang emosi dari dalam ke luar. Di usulkan serangkaian kejadian disaat kita emosi : Kita menerima situasi yang akan menghasilkan emosi[9]
Kita bereaksi  ke situasi tersebut,Kita memperhatikan reaksi kita. Persepsi kita terhadap reaksi itu adalah dasar untuk emosi yang kita alami. Sehingga pengalaman emosi-emosi yang dirasakan terjadi setelah perubahan tubuh, perubahan tubuh (perubahan internal dalam sistem syaraf otomatis atau gerakan dari tubuh memunculkan pengalaman emosi. Agar teori ini berfungsi, harus ada suatu perbedaan antara perubahan internal dan eksternal tubuh untuk setiap emosi, dan individu harus dapat menerima mereka. Di samping ada bukti perbedaan pola respon tubuh dalam emosi tertentu, khususnya dalam emosi yang lebih halus dan kurang intens, persepsi kita terhadap perubahan internal tidak terlalu teliti.
B.     Teori Cannon-Bard
Emosi yang dirasakan dan respon tubuh adalah kejadian yang berdiri sendiri-sendiri. Di tahun I920-an, teori lain tentang hubungan antara keadaan tubuh dan emosi yang dirasakan diajukan oleh Walter Cannon, berdasarkan pendekatan pada riset emosi yang dilakukan oleh Philip Bard. Teori Cannon-Bard menyatakan bahwa emosi yang dirasakan dan reaksi tubuh dalam emosi tidak tergantung satu sarna lain, keduanya dicetuskan secara bergantian. Menurut teori ini, kita pertama kali menerima emosi potensial yang dihasilkan dari dunia luar; kemudian daerah otak yang lebih rendah, seperti hipothalamus diaktifkan. Otak yang lebih rendah ini kemudian mengirim output dalam dua arah:[10]
1.      ke organ-organ tubuh dalam dan otot-otot eksternal untuk menghasilkan ekspresi emosi tubuh,
2.      ke korteks cerebral, dimana pola buangan dari daerah otak lebih rendah diterima sebagai emosi yang dirasakan. Kebalikan dengan teori James-Lange, teori ini menyatakan bahwa reaksi tubuh dan emosi yang dirasakan berdiri sendiri-sendiri dalam arti reaksi tubuh tidak berdasarkan pada emosi yang dirasakan karena meskipun kita tahu bahwa hipothalamus dan daerah otak di bagian lebih bawah terlibat dalam ekspresi emosi, tetapi kita tetap masih tidak yakin apakah persepsi tentang kegiatan otak lebih bawah ini adalah dasar dari emosi yang dirasakan.
C.     Teori Kognitif tentang Emosi
Teori ini memandang bahwa emosi merupakan interpretasi kognitif dari rangsangan emosional (baik dari luar atau dalam tubuh). Teori ini dikembangkan oleh Magda Arnold (1960), Albert Ellis (1962), dan Stanley Schachter dan Jerome Singer (1962). Berdasarkan teori ini, proses interpretasi kognitif dalam emosi terbagi dalam dua langkah: 1. Interpretasi stimuli dari lingkungan. Interpretasi pada stimulus, bukan stimulus itu sendiri, menyebabkan reaksi emosional. Contohnya, jika suatu hari kamu menerima kado dari Wini dimana Wini adalah musuh besarmu, maka kamu akan merasa takut atau bisa mengganggap bahwa kado tersebut berbahaya.
Tetapi akan berbeda ceritanya bila Wini adalah seorang teman karibmu, maka kamu akan dengan senang hati menerima dan membuka kado tersebut tanpa curiga. Jadi dalam teori kognitifpada emosi, informasi dari stimulus berangkat pertama kali ke cerebral cortex, dimana akan diinterpretasi pada pengalaman masa kini dan lamapau. Lalu pesan tersebut dikirim ke limbyc system dan sistem saraf otonom yang kemudian akan menghasilkan arousl secara fisiologis.
Interpretasi stimuli dari tubuh yang dihasilkan dari arousal saraf otonom Langkah kedua dalam teori kognitif pada emosi yaitu interpretasi stimulus dari dalam tubuh yang merupakan hasil dari arousal otonom. Teori kognitif menyerupai teori James-Lange teori menekankan pentingnya stimuli internal tubuh dalam mengalami emosi, tetapi sebenarnya itu berlanjut ke interpretasi kognitif dari stimuli, dimana hal tersebut lebih penting dari pada stimuli internal itu sendiri.
6)      KECERDASAN EMOSI
Suatu terobosan teori tentang emosi dikemukakan oleh Daniel Goleman dalam bukunya The Emotional Intelligence. Golemen melanjutkan penelitian-penelitian sebelumnya yang sudah berlangsung sejak 1970-1980-an termasuk yang dilakukan oleh Howard Gardener(tentang multiple intelegence), Peter Salovey, dan Jhon Mayer.
Dalam bukunya, Golemen menyatakan tiga hal yang sangat penting sehingga teorinya bisa dianggap sebagai terobosan[11].
Yang pertama, emosi itu bukan bakat, melainkan bisa dibuat dilatih dan dikembangkan, dipertahankan dan yang kurang baik dikurangi atau dibuang sama sekali. 
Kedua, emosi itu bisa diukur seperti intelegensi. Hasil pengukurannya disebut EQ (emotional Quotient). Dengan demikian, kita tetap dapat memonitor kondisi kecerdasan emosi kita. 
Ketiga, dan ini yang terpenting, EQ memegang peranan lebih penting daripada IQ. Sudah terbukti banyak rang dengan IQ tinggi, yang di masa lalu dunia psikologi dianggap sebagai jaminan keberhasilan seseorang, justru mengalami kegagalan. Mereka kalah daarai orang-orang dengan IQ rata-rata saja, tetapi memiliki EQ yang tinggi. Menurut Goleman, sumbangan IQ dalam menentukan keberhasilan seseorang hana sekitar 20-30% saj, selebihnya ditentukan oleh EQ yang tinggi.
Adapun orang yang dikatakan mempunyai EQ yang tinggi adalah jika ia memenuhi kriteria berikut, yaitu sebagai berikut:
1.      Mampu mengenali emosinya sendiri.
2.      Mampu mengendalikan emosinya dengan situasi dan kondisi.
3.      Mampu menggunakan emosinya untuk meningktakan motivasinya sendiri(bukan malah membuat diri putus asa atau bersikap negatif pada orang lain).
4.      Mampu berinteraksi positif dengan orang lain
Menurut Goleman, ada beberapa ciri pikiran emosional dalam kecerdasan emosional, di antaranya sebagai berikut[12] :
1.      Respon pikiran emosional (emotional mind) itu jauh lebih cepat dari pikiran rasional (rational mind). Pikiran emosional itu lebih cepat dalam bertindak tanpa mempertimbangkan apa   yang dilakukannya. Tindakan yang muncul dari pikiran emosional membawa rasa kepastian yang kuat.       
2.      Emosi itu mendahului pikiran. Menurut Ekman, secara teknis, memuncaknya emosi itu berlangsung amat singkat, hanya dalam hitungan detik, bukan dalam hitungan menit, jam, atau hari.
3.      Logika emosional itu bersifat asosiatif
4.      Memposisikan masa lampau sebagai  masa sekarang. Akal emosional bereaksi terhadap keadaan sekarang seolah–olah keadaan itu adalah masa lampau.
7)      PENGARUH EMOSI PADA BELAJAR 
Emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar (Meier dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006). Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Oleh karena itu, pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri pembelajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan dengan penciptaan kegembiraan belajar.
Menurut Meier, 2002 (dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006) kegembiraan belajar seringkali merupakan penentu utama kualitas dan kuantitas belajar yang dapat terjadi. Kegembiraan bukan berarti menciptakan suasana kelas yang ribut dan penuh hura-hura. Akan tetapi, kegembiraan berarti bangkitnya pemahaman dan nilai yang membahagiakan pada diri si pembelajar. Selain itu, dapat juga dilakukan pengembangan kecerdasan emosi pada siswa. Kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya secara sehat terutama dalam berhubungan dengan orang lain [13]

8)      PERTUMBUHAN EMOSI
Pertumbuhan dan perkembangan emosi seperti juga pada tingkah laku lainnya ditentukan oleh pematangan dan proses belajar seorang bayi yang baru lahir dapat menangis tetapi ia harus mencapai ringkas kematangan tertentu untuk dapat tertawa setelah anak itu sudah besar maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa digunakan untuk maksud-maksud tertentu atau untuk situasi tertentu.
Makin besar anak itu makin besar  pula kemampuannya untuk belajar sehingga perkembangan emosinya makin rumit. Perkembangan emosi melalui proses kematangan hanya terjadi sampai usia satu tahun. Setelah itu perkembangan selanjutnya lebih banyak ditentukan oleh proses belajar.[14]







BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari pemaparan materi tentang emosi di atas kami penulis menyimpulkan sebagai berikut:
1.      Setiap manusia memiliki karakteristik emosinya masing-masing yang semuannya itu merupakan suatu bentuk kebesaran Allah SWT sebagai pencipta manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.
2.      Emosi memiliki peranan yang penting dalam kehidupan. Emosi dapat mendatangkan keburukan ketika kita tidak dapat mengendalikannya dan kebaikan ketika diri kita dapat mengolahnya dengan baik.
3.      Berbagai macam-macam emosi dimiliki manusia sebagai makhluk yang sempurna. Baik buruknya suatu emosi tergantung bagaimana kita menyikapinya.
4.      Emosi berperan dalam proses pembelajaran. Karena dalam emosi terdapat energi  yang postif dan negatif. Tergantung bagaimana kita sebagai pendidik membimbingnya.
















DAFTAR PUSTAKA


Safaria,Trianto.2009.Manajemen Emosi,Jakarta:Bumi Aksara
Arito ,W suwono.2010,Pengantar Psikologi Umum ,Jakarta :PT.Raja Grafindo Persada
Drs,Abu Ahmadi.2003,Psikologi Umum,Jakarta:Rineka Cipta
Prof. Dr. Abdul Aziz El-Quusy.1954,ilmu jiwa , Jakarta : Bulan Bintang
Abdul Rahman Shaleh Dan Muhib Abdul Wahab.2009.Psikologi Pengantar (Dalam Perspektif Islam),Jakarta:Kencana









[1] Trianto Safaria,Manajemen Emosi,Bumi Aksara,Jakarta:2009 hlm-12
[2] Ibid,hal-13
[3] Ibid, hlm 14-15
[4] Arito ,W suwono,Pengantar Psikologi Umum ,PT.Raja Grafindo Persada : Jakarta,2010 hlm 124-125
[5] Triantoro safaria,Op.Cit hlm 13-14
[6]Https://Yogacintaindonesia.Wordpress.Com/2014/02/19/Makalah-Emosi-Psikologi-Umum
[7] Drs,Abu Ahmadi,Psikologi Umum,Rineka Cipta,Jakarta:2003 hlm-101
[8] Prof. Dr. Abdul Aziz El-Quusy,Ilmu jiwa,Bulan Bintang.Jakarta:1954 hlm 467-477
[9] Https://Yogacintaindonesia.Wordpress.Com/2014/02/19/Makalah-Emosi-Psikologi-Umum
[10] Https://Yogacintaindonesia.Wordpress.Com/2014/02/19/Makalah-Emosi-Psikologi-Umum
[11] Https://Yogacintaindonesia.Wordpress.Com/2014/02/19/Makalah-Emosi-Psikologi-Umum
[13] Https://Yogacintaindonesia.Wordpress.Com/2014/02/19/Makalah-Emosi-Psikologi-Umum
[14] Abdul rahman shaleh dan muhib abdul wahab.psikologi pengantar (dalam perspektif islam),kencana .jakarta :2009 hl m 173-174

Tidak ada komentar:

Posting Komentar